Jumat, 06 November 2009

Music and Heart

Musik sejak zaman dahulu telah disadari manusia sebagai suatu keajaiban. Hampir semua manusia tergerak olehnya. Nada dan irama telah juga menjadi bagian dari diri manusia, bunyi-bunyian alam, denyut kehidupan, dan alam semesta. Bahkan ada yang mengklaim bahwa manusia adalah musik, semesta adalah musik.

Maka dari itu pada halaman-halaman blog ini, kita akan mencoba mengeksplorasi keajaiban musik, keajaiban manusia, dan keagungan Tuhan. Eksplorasi itu dapat melalui review musik, kritik musik, baik dari kritikus maupun dari seorang pendengar awam, dan tentu dari komentar-komentar pembaca.

Sungguh saya berharap blog ini menjadi titik bangkitnya jurnalisme musik klasik di bumi Nusantara Indonesia. Dan juga sebagai titik bangkitnya perkembangan musik klasik di Indonesia.

Semakin mendengar, semakin mengerti, semakin merasa…

Makna yang tersebunyi di dalam hati…

Mengapa musik menjadi bagian dari alam kesadaran kita…

Mengapa kita sebagai manusia tergerak olehnya…

Mengapa kita bertumbuh darinya…

music_heart_sc.jpg

Ask Question? Please ask. From it we will learn something together…

Pianist Award Indonesia


Ananda Sukarlan

Ananda Sukarlan adalah sosok yang jauh dari ungkapan kacang lupa pada kulitnya. Pianis dan komponis Indonesia berkelas dunia, yang kini bermukim dan menjadi warga negara terhormat di Spanyol ini, ingin menyelengarakan sebuah program menarik yang berpuncak pada pemberian penghargaan kepada para pianis Indonesia berbakat lewat "Ananda Sukarlan Award for Best Indonesian Pianist 2008" pada Juli mendatang.

Inilah hadiah untuk tanah airnya dari musikus besar yang ulangtahunnya ke-40 di tahun ini dirayakan di berbagai negara. Program yang dibuka untuk para pianis Indonesia berusia di bawah 25 tahun ini merefleksikan minat Ananda Sukarlan dalam mengembangkan musik sastra Indonesia sekaligus musikalitas peserta. Diharapkan kelak mereka bakal mengikuti jejak-jejak visi, perjalanan serta keahlian sang maestro. Melalui program ini pianis-pianis berbakat Indonesia diberi kesempatan untuk tampil memainkan komposisi para komposer dunia dan Indonesia.

Kompetisi ini akan diselenggarakan di Jakarta, tanggal 23 - 26 Juli 2008. Program memainkan komposisi karya komposer dunia dan Indonesia akan dibagi dua babak, yakni babak penyisihan dan babak final. Sebagai ganjarannya Ananda sudah mempersiapkan puluhan juta rupiah bagi para pemenang. Untuk Best Indonesia Pianist 2008 pemenang akan diganjar hadiah Rp 25.000.000. Hadiah kedua Rp 12.500.000, hadiah ketiga Rp 7.500.000, serta penghargaan khusus untuk interpretasi karya komponis Indonesia sebesar Rp 5.000.000.

Untuk babak penyisihan tiap peserta diwajibkan membawakan komposisi-komposisi berikut ini. Pertama, satu prelude dan fugue karya Bach atau Mendelssohn atau Shostakovich atau satu interludium dan fugue dari Ludus Tonalis karya Hindemith. Kedua, satu etude karya Chopin (kecuali Op. 10 No. 3 dan 6, Op. 25 No. 7 dan Trois Nouvelles Etudes), atau satu etude karya Liszt (dari Paganini Etudes, Etudes Transcendentales or Three Concert Etudes), atau satu etude karya Prokofiev (Op.2), atau Rachmaninov (kecuali Op. 33 No. 3 dan 8, Op 39 No. 2 dan 7) atau Scriabin (kecuali Op. 2 No. 2, Op. 8 No. 8 dan 11, Op. 42 No. 2 dan 4, Op. 65 No. 2) atau Stravinsky (kecuali Op. 7 No. 3) atau Brtok (Op. 18) atau Debussy. Ketiga, satu komposisi berdurasi lima menit atau kurang, karya komponis Indonesia seperti Yazeed Djamin, Mochtar Embut, Amir Pasaribu, Jaya Suprana, Trisutji Kamal. Keempat, bagian pertama dari Sonata karya Haydn (kecuali HOB XVI/23 in F dan HOB XVI/37 in D), atau Mozart (kecuali KV 545 in C Major "Facile"), atau Beethoven (kecuali Op. 49 dan 79), atau von Weber, atau Schubert.

Dari babak penyisihan akan dipilih enam finalis. Pada babak final, keenam finalis terpilih diwajiakan membawakan resital berdurasi 45 menit, yang terdiri dari pertama, bagian-bagian yang belum dimainkan dari Sonata yang dibawakan pada babak penyisihan. Kedua, satu karya penting dari virtuoso dalam gaya romantik, berdurasi maksimal 12 menit. Ketiga, satu komposisi berdurasi 5 menit atau kurang, karya seorang komponis internasional, dengan tahun penulisan setelah 1908.

Para finalis membawa empat kopi partitur untuk diberikan ke juri sebelum gilirannya dimulai. Keempat, Rapsodia Nusantara No 1, komposisi baru yang megah untuk piano karya Ananda Sukarlan, dengan durasi enam menit. Karya ini akan dikirimkan ke seluruh peserta secara gratis melalui email dalam bentuk PDF. Peserta yang berharap dikirim melalui pos wajib membayar biaya pendaftaran lebih dulu.


____________________________________________________________

from the musical "Les Misérables"



Les Misérables is a musical by Claude-Michel Schonberg and Alan Boublil based on a book written by Victor Hugo. Since its premiere at the Palace Theatre, West End-London in 1985, Les Miserables has been translated into 21 different languages and played in 38 countries and 223 cities

The longest running production is in London where it played 7,602 performances at the Palace Theatre before transferring to the Queen's Theatre where it opened on 3 April 2004. It is the longest running musical both at the Palace Theatre and in the West End, London.

The biggest single live audience for Les Misérables to date was 125,000 at the 1989 Australia Day concert in Sydney.

Les Misérables contains beautiful tunes including “I Dreamed A Dream”, “Stars”, “Bring Him Home”, “One Day More”, “A Heart Full of Love”, “On My Own” and many more.

"One Day More", was used for Bill Clinton's 1992 US Presidential Campaign. "Do You Hear the People Sing" was played over TV newscast from the student protest in Tiananmen Square. "Bring Him Home" was officially requested by the US State Department to use as background for promotional material about the US troops engaged in the Gulf war.

Les Misérables celebrated the 10th Anniversary of its world premiere on 8 October 1995 with a Gala concert at the Royal Albert Hall, London.

The concert starred the original "Jean Valjean", COLM WILKINSON, who led a company of 250 artists and 100 musicians. All the artists involved had appeared in the worldwide productions of Les Misérables and the specially arranged finale featured 17 different Jean Valjeans singing in many of the languages in which the show has been performed.

And here’s the lyrics of BRING HIM HOME and a link to a video of Colm Wilkinson, the original “Jean Valjean”, who sings BRING HIM HOME.
Enjoy…!

BRING HIM HOME
From the musical Les Misérables
By Claude-Michel Schonberg and Alan Boublil

GOD ON HIGH, HEAR MY PRAYER
IN MY NEED YOU HAVE ALWAYS BEEN THERE
HE IS YOUNG, HE'S AFRAID
LET HIM REST, HEAVEN BLESSED
BRING HIM HOME
BRING HIM HOME
BRING HIM HOME

HE'S LIKE THE SON I MIGHT HAVE KNOWN
IF GOD HAD GRANTED ME A SON
THE SUMMERS DIE, ONE BY ONE
HOW SOON THEY FLY ON AND ON
AND I AM OLD AND WILL BE GONE

BRING HIM PEACE, BRING HIM JOY
HE IS YOUNG. HE IS ONLY A BOY
YOU CAN TAKE. YOU CAN GIVE
LET HIM BE. LET HIM LIVE

IF I DIE, LET ME DIE
LET HIM LIVE
BRING HIM HOME
BRING HIM HOME
BRING HIM HOME

Palace Theatre @ West End-London. March 2005

"MUSIKKU UNTUK BANGSAKU"


-->>> presented by Sampoerna Untuk Indonesia

A piano recital by Levi Gunardi


Levi Gunardi

Senin 11 Agustus 2008, Auditorium RRI Semarang
Kamis 14 Agustus 2008, Balai Pemuda, Surabaya

Sudah sejak lama saya mempunyai sebuah misi untuk memperkenalkan musik klasik khususnya dalam instrumen piano ke masyarakat Indonesia. Dari tahun ke tahun, resital demi resital telah dilaksanakan yang kebanyakan berbasis pada gedung konser di Jakarta. Saya ingat hal ini dilakukan mulai dari tahun 1997 pada setiap liburan kuliah saya mengadakan resital-resital, ataupun performances lainnya di Jakarta.

Kini tiba saatnya untuk melebarkan sayap ke kota-kota lainnya dalam membuat musik klasik lebih dapat diterima oleh masyarakat Indonesia, dan menghapus anggapan-anggapan yang memang sudah melekat kental di benak masyarakat kita sendiri bahwa musik klasik adalah hanya untuk "kalangan" tertentu. Sebuah anggapan yang seringkali membuat saya "gerah" karena hal itu saya yakin adalah salah besar.

Melalui konser "Musikku untuk Bangsaku" saya ucapakan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan dari "Sampoerna untuk Indonesia",yang ternyata sangat mendukung diadakannya acara ini. Dari situlah konser ini berawal. Betapa beruntungnya saya ternyata masih ada yang sangat peduli kepada kegiatan positif dalam pendidikan musik yang bersifat abadi ini.

Yang menjadi fokus dalam acara ini adalah banyaknya komponis-komponis Indonesia yang telah membuat karya-karya yang sangat baik, mulai dari bernuansa tradisionil, rasa nasionalisme tinggi, rasa patriotik, hingga musik Indonesia tapi justru yang di warnai dengan nuansa barat atau sebaliknya. Nama-nama komponis kita sudah terdengar di dunia lain, tapi betapa anehnya jika masyarakat kita sendiri tidak mengenal karya-karya mereka. Tidak ada momen yang lebih tepat dalam menyelenggarakan acara ini selain di bulan agustus yang juga bulan bersejarah bagi kemerdekaan negara kita.

Dari acara Resital dan dialog interaktif ini, 1 hal yang memang berkesan yaitu dalam acara tanya jawab di setiap sesi ke 2,karena ada saja yang memang baru pertama kali datang mendengar musik klasik dan ternyata bisa menyentuh hati mereka melalui musik ini, dan sangat mendukung dengan diadakannya acara seperti ini. Lebih dahsyatnya lagi, ternyata mereka adalah mahasiswa! Bukan orang-orang yang sudah berumur sesuai dengan anggapan musik klasik untuk orang tua.

Sungguh pengalaman yang unik dan berkesan dalam acara di 2 kota ini.....we'll always do the best for this country...INDONESIA

Levi Gunardi




Ballade pour Adeline

Ballade pour Adeline

Pada tahun 1976, ia diundang oleh produser rekaman Perancis yang bernama Olivier Toussaint. Rekan Toussaint yang bernama Paul de Senneville baru menyelesaikan balada untuk Adeline, anak perempuannya yang baru lahir. Pada waktu itu, Philippe Pagès masih berusia 23 tahun, dan mengikuti audisi bersama 20 orang pianis lain. Toussaint dan de Senneville senang dengan sentuhan lembut Philippe pada tut-tuts piano. Ditambah wajahnya yang tampan dan kepribadiannya yang menyenangkan, Philippe diterima untuk merekam lagu untuk piano ciptaan Paul de Senneville.

Nama Philippe Pagès diganti menjadi Richard Clayderman. Nama Clayderman diambil dari nama keluarga nenek buyutnya agar orang yang bukan penutur bahasa Perancis tidak salah mengucapkan namanya.[1] Singel Ballade pour Adeline ternyata jadi lagu laris, dan terjual 22 juta keping in 38 negara.

Konser Klasik dengan kemasan Pop



Tidak seperti di pergelaran musik klasik lain, konser Musicademia memang terasa lebih memberikan kebebasan pada penontonnya. Aturan-aturan baku yang biasa diterapkan di konser klasik tak berlaku sepenuhnya di sini.

Konduktor Addie MS, misalnya, bisa saja memberikan pengantar tentang satu repertoir yang akan dibawakan. Penonton bertepuk tangan saat sebuah repertoir sudah mulai dimainkan, atau penonton masih berjalan ketika konser sudah dimulai.

"Ya, kita memang ingin menumbuhkan terlebih dahulu apresiasi penonton terhadap musik klasik, sehingga aturan-aturan baku yang biasa diterakan pada konser musik klasik, kita abaikan dulu," ujarnya.

Selain itu, harga tiket yang amat murah juga jadi pembeda konser simponi Musicademia dengan konser klasik lain. Untuk konser semalam, tiket hanya seharga Rp20.000. Sehingga tidak heran kalau konser itu, seperti yang sudah pernah digelar tahun-tahun sebelumnya berhasil menghimpun banyak penonton.

Dalam konser tadi malam, sekitar 3.000-an penonton datang dalam konser bertema 'Terima Kasih Pemuda Indonesia' yang diadakan dalam rangka Sumpah Pemuda.

Berkait denga tema itu, Twilite Orchestra (TO) memang banyak membawakan repertoir lagu-lagu kebangsaan, seperti Bangun Pemuda Indonesia, Indonesia Pusaka, Pemuda, Selamat Datang Pahlawan Muda, dan lagu daerah yang terbungkus dalam medley serta lagu Janger dari Bali.

Repertoir lain adalah lagu-lagu karya musisi luar yang sudah akrab di sebagian penonton seperti Hero yang dipopulerkan Mariah Carey karya David Foster, The Power of Dream yang dipopulerkan oleh Babyface karya David Foster.

Meski tetap pula ada repertoir klasik seperti Academic Festival Overture Op 80 atau Festive Overture Op 96.

Penampilan Idol Divo yang meruapakan gabungan dari para finalis Indonesia Idol, yakni Delon, Yudika, Mike, dan Lucky, menjadi salah satu daya tarik para penonton muda yang banyak datang dalam konser tersebut. Idol Divo membawakan dua repertoir, yakni Pemuda yang dipopulerkan kelompok musik Chaeseiro pada era 80-an, serta Hero karya David Foster yang dipopulerkan Mariah Carey dan Air Supply.

Konser Musicademia adalah program tahunan yang dimulai pada 2000 yang merupakan bagian dari 'Program Kampus Sampoerna'.

"Program ini bertujuan untuk memberikan tontonan berkualitas bagi civitas akedemika yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan apresiasi bagi musik simfonik di Indonesia," ungkap Elvira Lianita, PR Manager PT HM Sampoerna Tbk

Gedung Unik di dunia



Gedung Keranjang (Amerika)

Diawali sebuah mimpi Dave Longaberger, Pendiri dari perusahaan Longaberger Perusahaan, telah merubah Kantornya menjadi Gedung Keranjang raksasa yang kini digunakan sebagai kantor Perusahaannya. Dave yakin idenya ini merupakan cara terbaik untuk menarik perhatian kepada perusahaannya. Awalnya ide dave hanya dianggap joke oleh teman2nya bahkan dia sering dicap sebagai pelawak. Tidak hanya Banker, perusahaan konstruksi dan arsitektur pun tidak menganggap Dave serius,bahkan banyak karyawan yang bekerja di Perusahaan Longaberger tidak percaya, tetapi Dave tetap yakin dan berusaha. Akhirnya mimpi Dave jadi kenyataan pada 17 Desember 1997 ketika Kantor Perusahaannya yang dirancang untuk menyerupai sebuah keranjang akhirnya dibuka untuk bisnis.




Rumah Tari (Republik Ceko)
Rumah Tari yang merupakan nama panggilan yang diberikan kepada sebuah gedung kantor di pusat kota Praha, Republik Ceko. Ia dirancang oleh arsitektur Ceko kelahiran Kroasia Vlado Milunic bekerjasama dengan arsitektur Kanada Frank Gehry. Di mana sebelumnya bangunan ini telah hancur karena bom di Praha pada 1945. Konstruksi dimulai pada 1994 dan selesai pada tahun 1996.

Desain yang non-tradisional ini sempat kontroversial pada saat itu. Presiden Ceko Václav Havel, yang tinggal untuk dekade itu akhirnya mendukung, berharap bahwa bangunan akan menjadi pusat kegiatan budaya.

Pada bagian atap dijadikan restoran Prancis dengan pemandangan kota yang indah. Bangunan dari penyewa lainnya termasuk beberapa perusahaan multinasional. (Yang rencana untuk pusat budaya tidak terwujud.) Karena terletak di sebelah jalan yang sangat sibuk dan sirkulasi udara yang tidak bagus, sehingga membuat interior agak kurang menyenangkan bagi para pengunjung dan para tamu.



Rumah Piano (Cina)
Rumah Piano yang unik ini dibangun di Propinsi An Hui, Cina. Di dalam biola terdapat eskalator yang digunakan untuk menuju bangunan. Bangunan ini menampilkan berbagai rencana pembangunan dan prospek dalam sebuah upaya untuk menarik minat yang baru-baru ini dikembangkan menjadi kawasan area ini.



Perpustakaan Kota Kansas (Amerika)
Perpustakaan kota Kansas memiliki satu pemandangan yang menarik. Penduduk lokal diminta untuk mencalonkan buku yang mewakili kota kansas, dan nanti bagi nominasi yang memenangkan ajang ini akan digunakan sebagai eksterior dari mobil-taman perpustakaan.



Gedung Robot (Thailand)
Gedung Robot, terletak di Sathorn bisnis di Bangkok, Thailand, tempat United Overseas Bank Bangkok berpusat. Gedung ini dirancang untuk Bank of Asia oleh Sumet Jumsai yang akan mencerminkan komputerisasi dari perbankan; arsitekturnya merupakan perpaduan dari neoclassical dan teknologi tinggi arsitektur postmodern.



The Crooked House (Polandia)
Arsitektur Polandia dari Crooked House, Szotynscy Zaleski, terinspirasi oleh dongeng ilustrasi dari Jan Marcin Szancer dan gambar-gambar dari artis Swedia Per Dahlberg. Gedung yang paling sering di foto di Polandia ini berdiri di 4.000 meter persegi yang terletak di pusat perbelanjaan Rezydent di Sopot, Polandia.




+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

woosss

Dompet Raksasa
Para pejalan kaki sempat kaget saat melihat sebuah dompet superbesar tergeletak di salah satu sudut Kota Melbourne, Australia, Selasa lalu (3/11). Begitu besarnya, dompet raksasa itu mampu memuat uang dalam jumlah yang banyak. Termasuk, orang sekalipun. Bahkan, seluruh uang yang dialirkan Anggodo dalam skandal yang kini menghebohkan di Indonesia, mungkin, bisa tertampung di dalamnya. Tetapi, warga hanya tersenyum setelah sadar bahwa dompet itu tidak berisi uang. Sebab, itu hanya karya seni instalasi seniman Simon Perry yang diberi judul ''The Public Purse'' (dompet publik). (Rtr)





Stradivarius Antonius ..Biola tertua


Biola tertua di Indonesia dipamerkan di Gedung Indonesia Mengugat (GIM) Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 5 Bandung mulai hari ini. Biola berwarna kecoklatan ini bernama Biola Antonius Stradivarius dan di produksi akhir tahun 1800-an.


Foto : Biola Antonius Stradivarius, Biola Tertua Di Indonesia

Pemilik awal biola ini adalah keluarga asal Portugis yang tinggal di Kawasan Tugu Cilincing, Jakarta Barat dan sudah diwariskan turun temurun sejak lima generasi.

Pemilik awal biola ini bernama Andreas Andries yang meninggal pada tahun 1889. Setelah meninggal, biola keluarga diwariskan ke anaknya, Lucas Andries (1880-1964). Seiring berjalannya waktu, biola keluarga ini pun diampu anggota keluarga lain. Mathias Michiels, menantu Lucas Andries diberi kepercayaan untuk merawat biola tersebut.

Setelah lama disimpan di Kawasan Tugu, biola itu harus berpindah tempat seiring migrasi keluarga pemilik. Pada tahun 1950, Mathias melakukan migrasi ke Papua dan biola pun turut dibawa pula. Biola selanjutnya tetap disimpan di Papua, meski Mathias harus berpindah ke Belanda pada tahun 1963.

"Anak Mathias yang bernama Arend Julinse Michiels diserahi tugas merawat biola tersebut," urai Wakil Ketua acara Pameran Repoeblik Keroncong mulai 27 Agustus - 30 Agustus, Zaini Rahman, Kamis (28/8/2008).

Pada tahun 1999, biola dibawa kembali ke Jakarta oleh putra Arend yang bernama Andre Juan Michiels. Andre yang saat ini berumur 30 tahun berencana mewariskan ke putra pertamanya, Arend Stevanus Michiels.


Lang Lang ,Pianist of Chinese Overture

Lang Lang

March 2008
Background information
Born June 14, 1982 (age 27)
Shenyang, China
(1982-06-14)
Occupations Pianist
Instruments Piano

Lang Lang (Chinese: 郎朗; pinyin: Láng Lǎng) (born June 14, 1982) is a Chinese (Manchupianist from Shenyang in Liaoning province, China. ethnicity)

Contents

[hide]

[edit] Early years

At the age of two, he saw Tom playing piano in The Cat Concerto, a Tom and Jerry cartoon on TV (Tom was attempting the Hungarian Rhapsody No. 2 in C-sharp minor composed by Franz Liszt). According to Lang Lang, this first contact with Western music is what motivated him to learn piano.[1][2] He began lessons with Professor Zhu Ya-Fen at age three. At the age of five, Lang won the Shenyang Piano Competition and performed his first public recital.[3]

When he was nine years old, Lang Lang was nearing his audition for Beijing's Central Conservatory of Music, but he had difficulties with his lessons, and was expelled from his piano tutor's studio for lack of talent.[4] His music teacher at his state school noticed Lang Lang's sadness, and decided to comfort him by playing a record of Mozart's Piano Sonata No. 10 in C Major, K. 330; she asked him to play with the slow movement. This reminded Lang of his love of the instrument. "Playing the K. 330 brought me hope again," recalled Lang.[4]

Lang was admitted into the Conservatory, studying under Professor Zhao Ping-Guo. In 1993, Lang won the Xing Hai Cup Piano Competition in Beijing, being awarded first prize for outstanding artistic performance at the Fourth International Young Pianists Competition in Germany the next year.[3] In 1995, at 13 years of age, he played the Op. 10 and Op. 25 ChopinEtudes, at Beijing Concert Hall and, in the same year, won first place at the Tchaikovsky International Young Musicians' Competition in Japan[3], playing Chopin's Piano Concerto No. 2Moscow Philharmonic Orchestra in a concert broadcast by NHK Television.[5] At 14 he was a featured soloist at the China National Symphony's inaugural concert, which was broadcast by CCTV and attended by President Jiang Zemin.[citation needed] The following year he began studies with Gary Graffman and Dick Doran at the Curtis Institute in Philadelphia. with the

HUT Twilite Youth Orchestra

Memperingati lima tahun perjalannya, Twilite Youth Orchestra bekerja sama dengan Hotel Indonesia Kempinski, Grand Indonesia dan BCA akan menyelenggarakan konser bertema “The Great Overtures, pada 17 Agustus 2009 pada pukul 15.00 dan 19.00 Wib di Bali Room, Hotel Indonesia Kempinski.

 HUT, Twilite Youth Orchestra Helat KonserBerdirinya sejak Agustus 2004, Twilite Youth Orchestra yang didirikan Addie MS dan dikonduktori oleh Eric Awuy, sudah mengadakan lebih dari dua puluh pertunjukkan. Tujuannya adalah agar memberi kesempatan bagi para remaja anggotanya untuk bermain musik bersama, meningkatkan kemampuan bermusik, mengapresiasi musik-musik simfonik, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri dengan tampil di depan publik.

Di konsernya ini nanti, penonton akan diajak menikmati Overtures terkenal karya komposer-komposer ternama seperti ‘The Mastersingers of Nuremberg- Prelude to the Opera’ karya Richard Wagner, ‘William Tell Overture’ karya Gioachino Rossini, ‘Academic Festival’ karya Johannes Brahms dan ‘The Marriage of Figaro’ karya Wolfgang Amadeus Mozart.

Tak hanya itu saja, ada juga berbagai karya yang menampilkan para solis muda Twilite Youth Orchestra. Misalnya ‘Kol Nidrei’ (Cello Concerto) karya Max Bruch, ‘Violin Concerto no. 3’ (1st movement-Allegro) karya WA Mozart, serta ‘Oboe & Bassoon Concerto in G Major RV 545’.

Sebagai solis antara lain Yani Listiyani (violin), Beatrice Monica (cello), Stephanie Marcia Suryahadi (bassoon), dan Wirya Satya Adenatya (oboe). Penampilan para solis sekaligus untuk menunjukkan adanya regenerasi musisi, terutama untuk pemain instrumen yang relatif langka di Indonesia seperti bassoon dan oboe.

Sebagai perwujudan rasa syukur, Twilite Youth Orchestra juga akan menyumbangkan sebagian hasil konser untuk para nelayan di kawasan Buleleng yang tergabung dalam program Eco Fish agar bisa menangkap ikan hias dengan cara yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Musicademia 'Terima Kasih Pemuda Indonesia'

musicademia ticket

Ini adalah pengalaman pertama saya menonton Twilite Orchestra secara live, walaupun motif utama bukan menonton Twilite Orchestra tapi menonton guru piano saya, Levi Gunardi.

Tiba di Balai Kartini waktu sudah menunjukkan pukul 7. Para calon penonton sudah berbondong-bondong antri di depan pintu yang jadwalnya akan dibuka pukul 7.30 seperti antri sembako. Begitu pintu dibuka semua penonton langsung bergerak masuk dan saling dorong seperti antri sembako. Bisa diduga ini adalah acara yang lagi-lagi panitianya tidak memikirkan kenyamanan penonton.

Konser malam itu dibuka dengan sebuah video yang menampilkan perjuangan pemuda-pemudi Indonesia dari masa ke masa. Videonya dikemas menarik dengan sinematografi yang enak dilihat. Kemudian Addie MS masuk dan memimpin orchestra memainkan ‘Indonesia Raya’. Konser ini memang diadakan sehari setelah hari Sumpah Pemuda dan atmosphere patriotismenya benar-benar terasa.

Addie MS ternyata cukup komunikatif, ia selalu memberikan introductory singkat sebelum atau sesudah memainkan sebuah komposisi.

Daniel Christianto

Solois pertama yang muncul membawakan Indonesia Pusaka karangan Ismail Marzuki adalah Daniel Christianto yang cukup berbakat namun saya tidak begitu menyukai gaya vokalnya yang berjenis seriosa. Terlalu banyak getaran sehingga terkesan dieksploitasi, tapi saya memang tidak begitu mengerti tentang seriosa.

Lea Simanjuntak

Membawakan Indonesia Jaya dengan penuh penghayatan dan yang paling mengesankan dari solois wanita ini adalah kekuatan vokalnya. Di lagu The Power of The Dream bahkan vokalnya lebih memukau lagi. Bagi saya penyanyi paling bagus malam itu adalah Lea Simanjuntak.

Idol Divo

Selain solois Daniel Christianto dan Lea Simanjuntak, Idol Divo yang terdiri dari Mike, Delon, Lucky, dan Judika Indonesian Idol. Mereka membawakan lagu Pemuda karya Candra Darusman dan Hero-nya Mariah Carrey. Pada lagu pertama saya tidak begitu menyukai harmonisasi vokalnya, terasa nanggung dan kurang pas, bagian akhirnya pun terdengar menggantung dan aneh. Namun di lagu yang kedua mereka terdengar lebih enak.

Duo Piano: Levi Gunardi dan Johannes S. Nugroho

Yang saya tunggu-tunggu adalah duet piano Levi Gunardi dan Johannes S. Nugroho membawakan Tabuh Tabuhan: III Finale karya Colin McPhee. Bagi saya komposisi ini adalah klimaks dari acara malam itu. Lagu ini bernuansa bali dengan instrumen utama 2 piano, celesta, xylophone, marimba, glockenspiel, cymbal dan gong Bali. Duo piano bermain agresif dan mengimitasi suara gamelan membuat nuansa Bali. Lagu ini tidak ada bagian klimaksnya, namun semua instrumen bersatu dengan sedikit campuran musik Barat yang mengalun dan musik Bali yang agresif.

Komposisi favorit saya selain Tabuh Tabuhan: III Finale adalah Janger yang dinyanyikan paduan suara dari universitas Trisakti, IPB, dan UI. Lagu ini juga bernuansa Bali dengan harmonisasi paduan suara yang luar biasa indah dan mistis. Selain itu ada juga Sabre Dance yang diambil dari musik ballet Rusia yang berjudul Gayaneh, lagu ini merupakan tarian pedang. Di sini terlihat benar Addie MS dan para pemain orchestra benar-benar menikmati bermain musik. Pada bagian akhir lagu Addie MS sempat meniru gerakan bermain pedang bersama dengan pemain biola dan pemain cello.

Konser malam itu dilihat dari segi acara sangat menarik dan menghibur, tapi selalu ada nilai minus dari sisi kenyamanan menonton. Dimulai dari antrian yang sangat panjang dan pintu yang sangat kecil sampai kenyamanan kita duduk menonton. Karena floor dibuat sedikit naik dengan tripleks yang dilapisi karpet jadi setiap ada orang berjalan, area tempat duduk tersebut akan bergoyang-goyang heboh, sudah begitu panitia terus hilir-mudik jadi selama menonton saya rasanya seperti berada di atas air karena goyang-goyang terus


.

Malam Ini, Twilite Orchestra Akan Hibur Warga Semarang Jumat, 6/11/2009

Jumat, 6/11/2009
  • TO Menghibur, Afgan dan Lea Jadi Bintang ..
  • Afgan dan Lea di Panggung Orkestra Musicademia..

SEMARANG, KOMPAS.com - Setelah menghibur kalangan civitas akademika di Palembang, Sumatra Selatan, lewat konser simpfoni Musicademia 2009, kelompok musik simponi Twilite Orchestra pimpinan Addie MS akan menggelar konser bertema "Bagimu Pahlawan" di Kota Semarang.

Pementasan yang akan dilangsungkan di Ballroom Hotel Horizon, Jumat (6/11) malam nanti, digelar dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November, sekaligus menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap musik orchestra di Tanah Air.

"Seperti pertunjukan sebelumnya di Palembang, konser di Semarang juga kita akan menampilkan repertoar musik klasik dari lagu-lagu yang mengusung tema semangat kepahlawanan. Ada beberapa repertoar yang diubah. Kalau kemarin di Palembang kita membawakan Gending Sriwijaya, di Semarang pastinya kita akan membawakan lagu dari daerah sini," jelas Addie, dalam jumpa pers di Hotel Horizon, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/11).

"pastinya akan diaransemen ulang agar mampu menghadirkan warna alunan yang elegan namun mudah dicerna serta dapat dinikmati oleh semua kalangan," lanjut Addie.

Karenanya, untuk melengkapi harmonisasi musik simfoni yang akan dibawakan TO, Addie pun menggandeng Christopher Abimanyu. "Mereka itu adalah orang-orang yang menonjol di bidangnya, kalau Abimanyu itu seorang penyani sopran yang sudah tidak diragukan lagi," ungkap Addie.

Nah, untuk menarik antusias kalangan anak-anak muda, Addie kembali menggaet penyanyi Afgan Syahreza dan Lea Simanjuntak untuk terlibat dalam konser simfoninya kali ini. "Lea juga demikian, dia penyanyi festival. Terus Afgan, meski dia penyanyi baru bukan berarti idealis itu milik yang tua," imbuh Addie.

Menilik tujuan dari konser musik simfoni sebagai pembangkit semangat kepahlawanan, maka tema dan repertoar lagu kali ini begitu kental dengan nuansa nasionalisme. Lagu "Indonesia Raya" akan menjadi pembuka, dan dilanjutkan dengan "Bangun Pemudi Pemuda", "Juwita Malam", dan sederetan lagu perjuangan lainnya

usmar ismail

woowwwww


You are currently browsing the category archive for the 'Concert Hall' category.

Sendratari Ramayana Tampil di Lebanon

Jumat, 31 Juli 2009 | 02:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com–Kedutaan Besar RI di Beirut, Lebanon, menampilkan Sendratari Ramayana dan aneka musik tradisional Indonesia di beberapa kota di Lebanon dalam pagelaran bertajuk “Malam Indonesia”.

Siaran pers KBRI Beirut yang diterima ANTARA di Jakarta, Kamis, menyebutkan, para seniman yang akan tampil dalam sendratari tersebut berasal dari Yogyakarta, dan diperkuat para staf KBRI Beirut, mahasiswa, dan prajurit TNI di UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon).

Acara tersebut diselenggarakan untuk memeriahkan peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke-64, pada 17 Agustus 2009.

Para penari Lebanon yang tergabung dalam Friends of Indonesia (Teman-Teman Indonesia) juga ikut berkolaborasi dalam itu.

Penampilan dimulai 8 Agustus 2009 di UNESCO Palace. Beirut mengundang sekitar 1.000 penonton dari semua kalangan di Lebanon.

UNESCO Palace merupakan balai pertunjukan berkapasitas 1.500 tempat duduk, lengkap dengan peralatan panggungnya. Tempat ini sering digunakan untuk pementasan seni-budaya, drama dan hiburan yang biasa dibawakan oleh artis tersohor dari berbagai negara.

Pada 11 Agustus 2009, tim kesenian dengan hampir 70 pemain ini akan manggung di hadapan pasukan penjaga perdamaian PBB di daerah perbatasan Lebanon-Israel.

Pada kesempatan ini, pelawak Tarzan dan teman-temannya juga akan tampil, menghibur pejuang-pejuang perdamaian yang haus humor-humor segar Indonesia.

Tempat berikutnya yang “disambangi” tim kesenian itu adalah Bachoos Temple, sebuah candi bekas reruntuhan kota kuno Romawi di kota Baalbeck, 2 jam perjalanan darat ke arah tenggara Lebanon. Di sana mereka akan manggung pada 15 Agustus 2009.

Menurut guru tari KBRI Beirut, Ahmad Maulana, persiapan “Malam Indonesia” terus dilakukan, tidak hanya latihan gerakan tarian, tapi juga terkait dengan urusan teknis menyeluruh.

Ia mengatakan, tim akan tampil penuh kejutan dalam atraksi berdurasi satu jam tersebut dengan memaksimalkan penggunaan teknologi pencahayaan dan sound system yang dipadu untuk mendukung karakter cerita tari.

“Lenggak lenggok penari Lebanon, yang terbiasa dengan gerakan tari salsa dan jenis hip-hop lainnya akan memperkaya dan menambah unsur surprise dalam pertunjukan nanti,” kata Ahmad Maulana yang sebelumnya aktif di grup kesenian Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

...................

wala-wala .. keren nian oi .. jembatan2 nya ..
hahah :))
kpan y bsa ksna ???
wkwkkwk :P


1 Jembatan Oliveira di Brazil: Jembatan kabel bentuk X pertama di dunia

[Image: a261_oliveira-brazil-1.jpg?w=450&h=566]

2. Tower Bridge (Britania Raya): Jembatan Victorian Paling Terkenal dan Terindah


[Image: a261_tower-victorian-eng.jpg?w=480&h=319]

3. Jembatan Banpo (Korea Selatan): Jembatan Air Mancur


[Image: a261_fountain-korea.jpg?w=450&h=739]

4. Jembatan Millau (Perancis): Jembatan Tertinggi di Dunia


[Image: a261_millau-france-1.jpg?w=450&h=299]

5. Jembatan Teluk Hangzhou (Cina): Jembatan Lintas Lautan Terpanjang di Dunia
[Image: a261_hangzhou-cina.jpg?w=450&h=579]

6. Rolling Bridge (Britania Raya): Jembatan yang dapat menggulung sendiri


[Image: a261_rolling-eng.jpg?w=450&h=478]

7. Jembatan Air Magdeburg (Jerman): Jembatan Air Terbesar di Eropa


[Image: a261_water-jerman.jpg?w=450&h=272]


yeeee ..

saiia suka ..

paling suka ..

Jembatan Banpo (Korea Selatan): Jembatan Air Mancur

hahah ..
mw ksna.mw ksna

ASEAN JAZZ FESTIVAL 2009 Digelar di Batam

ASEAN JAZZ FESTIVAL 2009 Digelar di Batam
Jumat, 10 Juli 2009

Mengulang sukses penyelenggaraan ASEAN Jazz Festival 2008, Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata Republik Indonesia berencana menggelar kembali acara tersebut, 7-8 Agustus 2009.

Acara yang akan digelar di Coastarina Batam akan menghadirkan banyak musisi, diantaranya RAN – Notturno – Tohpati Quartet – Sketsa – Devian – Baim Trio – Imelda Rosalin Trio Feat Arina Mocca – Alien Loves Earth (Baron ‘Soulmates’ – Krishna ‘ex-Ada Band’ – Budi Haryono ‘Tiket’ – Rindra ‘Padi’ – Once ‘Dewa’) – Mangrove – Chepy ‘n Friends (lokal Batam). Dari negara tetangga (kawasan ASEAN) akan tampil Lewis Pragasam Trio (Malaysia) – Aya Yuson Quartet (Philiphines) – Tze (Singapore) – The Intersect 3+1 (Thailand).

Dalam press releasenya yang diterima Indonesiantunes, dilanjutkannya acara ini merupakan upaya pemerintah dalam menggaungkan kampanye Visit Indonesia 2009, sekaligus membuktikan bahwa Indonesia merupakan pelopor penyelenggaraan Festival Musik Jazz yang melibatkan musisi-musisi muda Jazz berbakat dari negara-negara ASEAN.

Dalam acara koneferensi pers yang digelar Kamis, 9 Juli 2009 lalu, hadir sejumlah musisi pendukung diantaranya Imelda Rosalin, Gerald , Sketsa, Masmo, Notturno, Rindra, dan Alien Loves Earth.

Dipilihnya kota Batam untuk penyelenggaraan acara ini, menurut panitia, karena Batam mudah dijangkau oleh wisatawan mancanegara melalui Singapura. Tidak hanya itu, kota ini memang semakin berkembang. Selain sebagai kota Industri, juga sebagai kota perlintasan para turis. Tidak ada salahnya "mencegat" mereka dengan menyuguhkan acara menarik ini.

Twilite Orchestra Guncang Sydney Opera House

Addie MS bersama Twilite Orchestra (TO) mampu memukau lebih dari 2.000 penonton yang hadir dalam konsernya di Sydney Opera House, Australia, Selasa (21/7).

Dalam konser bertemakan "A Touch of Indonesia" tersebut TO membawakan berbagai lagu nasional dan tradisional Indonesia dengan aransemen musik simfonik. Untuk vokalis mereka menggandeng empat penyanyi yang terdiri dari dua penyanyi Indonesia, Utha Likumahuwa dan Binu Sukaman serta dua penyanyi Australia, Stephen Smith dan Jessica Mauboy.

Konser malam itu dibuka dengan lagu 'Chinese Overture' yang dilanjutkan dengan lagu 'Ondel-ondel' dan Indonesia Pusaka. Setelah jeda, TO membawakan lagu yang lebih bersemangat dan kental unsur-unsur musik Indonesia, seperti 'Janger', 'Yamko Rambe Yamko', 'Cublak-cublak Suweng' dan 'Jali-jali'.

Penampilan Stephen Smith membawakan lagu 'Tanah Airku' dan Jessica Mauboy dengan 'Bengawan Solo' semakin memeriahkan suasana. Kedua penyanyi asal Australia tersebut tidak terlihat canggung menyanyikan lagu berbahasa Indonesia.

Konser bertajuk 'A Touch of Indonesia' tersebut merupakan program diplomasi budaya dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Dalam konser ini, Debudpar bersama Konjen RI di Sydney memberangkatkan lebih dari 100 orang pemain orkestra dan choir asal Indonesia. (detik/bug)

Bagimu Pahlawan


seneng bged .. selase malem kmren ak nnton orkestra Musikademia sma Afgan ..
bgus bged .. afgannya jga ckep bged .. hahha :))



PALEMBANG, - Penyanyi yang namanya tengah bersinar Afgan Syahreza dan Lea Simanjuntak akan tampil memeriahkan Konser Simfoni Musicademia 2009, yang akan dilangsungkan di Hotel Aryaduta, Palembang, Sumatra Selatan, Selasa .

Kehadiran Afgan dan Lea menarik minat kawula muda Palembang untuk menyaksikan konser yang tahun ini mengusung tema besar "Bagimu Pahlawan", dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, yang jatuh pada tanggal 10 November mendatang.

konser yang memasuki tahun ke-9 ini, menjadi sarana untuk menumbuhkan kembali semangat nasionalisme dan patriotisme yang telah ditunjukkan oleh para pejuang di masa merebut kemerdekaan RI.


Dikatakan Addie MS, kegiatan Musicademia merupakan bagian dari usaha menjembatani agar musik simfoni lebih dikenal masyarakat sebagai bagian dari sebuah seni yang juga bisa dinikmati oleh masyarakat kebanyakan, tanpa ada sekat yang membedakannya. "Musik simfonik bukanlah musik untuk kalangan tertentu. Pandangan bahwa musik simfoni adalah musik golongan tertentu, agama tertentu harus diubah. Mempelajari musik simfoni sedari dini justru akan menghasilkan pribadi yang holistik, yang mampu mengetahui seni secara menyeluruh," kata Addi


Symphony Part 2 (Cross-Pollination)

Rise above the crowd,
And wade through toxic clouds,
Breach the outer sphere,
The edge of all our fears,
Rest with you,
We are counting on you,
It's up to you

Spread, our codes to the stars,
You can rescue us all,
Spread our codes to the stars,
You muse rescue us all,
Tell us, what is your final wish?
Now we know you can never return,
Tell us, what is your final wish?
We will tell it to the world

fall for you

The best thing about tonight's that we're not fighting
Could it be that we have been this way before
I know you don't think that I am trying
I know you're wearing thin down to the core

But hold your breath
Because tonight will be the night that I will fall for you
Over again
Don't make me change my mind
Or I wont live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
You're impossible to find

This is not what I intended
I always swore to you I'd never fall apart
You always thought that I was stronger
I may have failed
But I have loved you from the start
Ohhhh

But hold your breath
Because tonight will be the night that I will fall for you
Over again
Don't make me change my mind
Or I wont live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
It's impossible

So breathe in so deep
Breathe me in
I'm your's to keep
And hold onto your words
Cause talk is cheap
And remember me tonight
When you're asleep

Because tonight will be the night that I will fall for you
Over again
Don't make me change my mind
Or I wont live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
Tonight will be the night that I will fall for you
Over again
Don't make me change my mind
Or I wont live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
You're impossible to find

Love Story

“Love Story”

We were both young, when I first saw you.
I close my eyes and the flashback starts-
I’m standing there, on a balcony in summer air.

I see the lights; see the party, the ball gowns.
I see you make your way through the crowd-
You say hello, little did I know…

That you were Romeo, you were throwing pebbles-
And my daddy said “stay away from Juliet”-
And I was crying on the staircase-
begging you please don’t go…
And I said…

Romeo take me somewhere, we can be alone.
I’ll be waiting; all there’s left to do is run.
You’ll be the prince and I’ll be the princess,
It’s a love story, baby, just say yes.

So I sneak out to the garden to see you.
We keep quiet, because we’re dead if they knew-
So close your eyes… escape this town for a little while.
Oh, Oh.

Cause you were Romeo – I was a scarlet letter,
And my daddy said “stay away from Juliet” -
but you were everything to me-
I was begging you, please don’t go-
And I said…

Romeo take me somewhere, we can be alone.
I’ll be waiting; all there’s left to do is run.
You’ll be the prince and I’ll be the princess.
It’s a love story, baby, just say yes-

Romeo save me, they’re trying to tell me how to feel.
This love is difficult, but it’s real.
Don’t be afraid, we’ll make it out of this mess.
It’s a love story, baby, just say yes.
Oh, Oh.

I got tired of waiting.
Wondering if you were ever coming around.
My faith in you was fading-
When I met you on the outskirts of town.
And I said…

Romeo save me, I’ve been feeling so alone.
I keep waiting, for you but you never come.
Is this in my head, I don’t know what to think-
He knelt to the ground and pulled out a ring and said…

Marry me Juliet, you’ll never have to be alone.
I love you, and that’s all I really know.
I talked to your dad — go pick out a white dress
It’s a love story, baby just say… yes.
Oh, Oh, Oh, Oh, Oh.

We were both young when I first saw you.

clavinova

The Clavinova is a long-running line of digital pianos created by the Yamaha Corporation. They are similar in styling to an acoustic piano, but with many features common to other digital pianos such as the ability to save and load songs, the availability of different voices, and, in more recent models, the ability to be connected to a computer via USB or wireless network.

The CLP range is aimed more towards those looking for a digital alternative to an acoustic piano and concentrates on accurately reproducing its touch and sound though most in the range also have a limited number of other voices available. The CVP range provides a greater variety of voices and also built-in rhythms and accompaniments enabling complete performances to be played and recorded using built-in sequencing software.

[edit] Technical information

Some Clavinovas (CLP and CVP-Series) feature graded hammer technology, a mechanical system of small metal hammers, weighted to be similar to those of a real pianoforte, which hit a digital pressure sensor that then translates into sound. This technology has contributed to the success of the Clavinova as a more affordable substitute for an acoustic piano. The 'Graded' action is intended to reproduce more accurately the varying weights of the hammers of an acoustic piano where the hammers vary in weight from the bass section to the treble. Newer Clavinovas, such as the CVP-407, incorporate real wood keys for added realism.

The built-in synthesizer produces the sound. The synthesizer contains samples of real instruments which are then selected and modified by the electronics to produce the desired sound. Information comes in a MIDI or similar format either directly from the piano keyboard or from a stored source (from within the piano or via a computer or external sequencer). The synthesizer can imitate a large array of acoustic instruments, electronic instruments and other sound effects. Recent models of CVP Clavinova have hundreds of such voices. These usually include many types of pianos and organs, string, percussion, brass and woodwind instruments, as well as modern and vintage synthesizer sounds, sampled effects etc. The more recent CVP models also feature many accompaniment styles, ranging from traditional dance and classical orchestration, through to more modern club, pop, rock, big band and jazz styles.

The latest currently available models of the Clavinova are the CLP-3XX range and the CVP-40X range; the CVP-401 is the lower-end of the range, while the CVP-409 is the most expensive. The retail price of the CVP-409 is about US$12,000.

about PIANO

Piano adalah alat musik yang dimainkan dengan jari-jemari tangan. Pemain piano disebut pianis.


Piano
Boesendorfer grand piano

Boesendorfer grand piano

Alat musik papan kunci
Klasifikasi Hornbostel-Sachs 314.122-4-8
(Simple chordophone with keyboard sounded by hammers)
Pencipta Bartolomeo Cristofori
Dikembangkan Awal Abad ke-18
Rentangan permainan
Range of piano.JPG

Pada saat awal-awal diciptakan, suara piano tidak sekeras piano abad XX-an, seperti piano yang dibuat oleh Bartolomeo Cristofori (16551731) buatan 1720. Pasalnya, tegangan senar piano kala itu tidak sekuat sekarang. Kini piano itu dipajang di Metropolitan Museum of Art di New York.

Meskipun siapa penemu pertama piano, yang awalnya dijuluki gravecembalo col piano e forteharpsichord dengan papan tuts lembut dan bersuara keras), masih menjadi perdebatan, banyak orang mengakui, Bartolomeo Cristofori sebagai penciptanya. Piano juga bukan alat musik pertama yang menggunakan papan tuts dan bekerja dengan dipukul. Alat musik berprinsip kerja mirip piano telah ada sejak 1440. (

Piano sendiri lahir dari keinginan untuk menggabungkan keindahan nada clavichord dengan kekuatan harpsichord. Hasrat itu mendorong Marius dari Paris (1716), Schroter dari Saxony1717), dan Christofori (1720) dari Padua, Italia, untuk membuat piano. Namun, hasil utuh dan lengkap cuma ditunjukkan Bartolomeo Christofori. Dari piano ciptaan pemelihara harpsichord dan spinet (harpsichord kecil) di Istana Florentine - kediaman Pangeran Ferdinand de’Medici - inilah piano modern berakar. (

Pada pertengahan abad XVII piano dibuat dengan beberapa bentuk. Awalnya, ada yang dibuat mirip desain harpsichord, dengan dawai menjulang. Piano menjadi lebih rendah setelah John Isaac Hawkins memodifikasi letaknya menjadi sejajar lantai. Lalu, dengan munculnya tuntutan instrumen musik lebih ringan, tidak mahal, dan dengan sentuhan lebih ringan, para pembuat piano Jerman menjawabnya dengan piano persegi. Sampai 1860 piano persegi ini mendominasi penggunaan piano di rumah.

Rangka untuk senar piano pertama menggunakan rangka kayu dan hanya dapat menahan tegangan ringan dari senar. Akibatnya, ketika pada abad XIX dibangun gedung-gedung konser berukuran besar, suara piano tadi kurang memadai. Maka, mulailah dibuat piano dengan rangka besi. Sekitar tahun 1800 Joseph Smith dari Inggris membuat suatu piano dengan rangka logam seluruhnya. Piano hasil inovasinya mampu menahan tegangan senar sangat kuat, sehingga suara yang dihasilkan pun lebih keras. Sekitar 1820, banyak pembuat menggunakan potongan logam untuk bagian piano lainnya. Pada 1822, Erard bersaudara mematenkan double escapement action, yang merupakan temuan tersohor dari yang pernah ada berkaitan dengan cara kerja piano.

Dalam perkembangannya, sebelum memiliki 88 tuts seperti sekarang, piano memiliki lima oktaf dan 62 tuts. Ia juga dilengkapi dengan pedal. Semula pedal itu digerakkan dengan lutut. Namun, kemudian pedal kaki yang diperkenalkan di Inggris menjadi populer hingga sekarang.

Sejumlah pengembangan berlanjut pada abad XIX dan XX. Tegangan senar, yangg semula ditetapkan 16 ton pada tahun 1862, bertambah menjadi 30 ton pada piano modern. Hasilnya adalah sebuah piano dengan kemampuan menghasilkan nada yang tidak pernah dibayangkan Frederic Chopin, Ludwig van Beethoven, dan bahkan Franz Liszt.

Notasi piano

Sebuah perkembangan nyata di abad XX (berawal di tahun 1930-an) adalah kehadiran piano elektronik (atau piano listrik), yang didasarkan pada teknologi elektroakustik atau metode digital. Nada suaranya terdengar melalui sebuah amplifier dan loudspeaker.

Dari sisi mutu suara, piano elektronik nyaris tak ada bedanya dengan piano biasa. Perbedaan terletak pada berbagai fitur yang melengkapinya. Fitur itu tentu tidak ada sama sekali dalam piano biasa. Misalnya, bisa dihubungkan dengan perangkat MIDI, komputer, alat rekam; memiliki pengatur volume, tusuk kontak untuk pendengar kepala; dan sebagainya.