Rabu, 02 Desember 2009

inside Anime Festival Asia 2009


I am a supporter of Rapid Culture since many years back. Only managed to speak to Yanjie for a while since he was busy serving customers.


One of my favourite toy vendors Falcon's Hangar is also there. Cliff & Calvin were in high spirit. Calvin told me the stall set up started since two days.


Odex is still going strong! Booth was crowded with people buying first DVD issue of Gundam 00 season DVD with boxset. Also have Code Geass & the DeGrayman.


The stage area. Screening of anime was also held there.


Announcement of Sangokuden junior model kit winner.

Moving around Anime Festival Asia 2008 definitely is much easier than Toys and Comic Comic Convention 2008. Maybe it's not a Sunday or perhaps the other possible reason could be due to the entrance fee. Good thing about ticketing is that it's more focus on the target group so that the venue would not be choked up by passing crowd.

AFA09 Singapore

hmm , i'm after saw this event's
FESTIVAL ANIME ASIA 2009 at Suntec Convention & Exhibition
on November 27-28th 2009 same with event's our moeslim ,eid adha

Anime Festival Asia 2009, or AFA09 for short, was held over 2 days in Singapore at the Suntec Singapore International Convention & Exhibition Center. The event is in its second year running and is meant as a celebration of Japanese pop culture. And I’m sure it has been a tiring two days for organizers, exhibitors and visitors alike… I know I am. I trekked the event for 2 days and the aftermath are sore legs and the following field report of my experience this year. :)


.

Anime Festival Asia an event focusing on Japanese animation and popular culture, ones again returns at 2009. AFA2008 was a highly successful event that attracted many people even from other countries..

.

One addition this year is the Moe Moe Kyun Meido cafe. It is a good idea although I didn’t try it out as I find the prices of the food a tad too expensive for me. Probably would have been good for the experience, but oh well.

As like last year, one of the attraction of the festival is the anime concert. The theme this year is I Live Anisong and the organizers invited a strong cast for the concert this year with the likes of Ichirou Mizuki, Yoshiki Fukuyama, May-N and Shoko Nakagawa, a.k.a. Shoko-tan, and not forgetting Hatsune Miku. But poor me have no money to attend. :(

I did however, manage to catch Shoko-tan in person during her autograph session.

It was really tough jostling with so many people around trying to take photos of her and the security guards looking to push everyone away…LOL… I manage a few shots eventually though they didn’t turn out very well. >_<>

There were plenty of live stage events throughout the two days event though. And kudos to the organizer, I feel that the live stage was a big improvement from last year with bigger arena and better content.

This year’s event were also swarmed with cosplayers. Even though I do not know much about cosplaying, I do feel that there are major improvements in the quality of the cosplays this year compared to last year. And I also ended up taking loads of photos of the cosplayers. I had intended to do a separate post on the cosplayers but I guess these lot will do. ^^.

.




Sorry, I just had to post that last Gundam cosplayer … LOL … I guess some cosplayers are hit hard by the economic crisis. ^^” Anyway, jokes aside, while it was hilarious, I thought it took a lot of courage to do something like that knowing that you will probably end up as a joke.

Due to the limitation of the exhibition arena, the cosplayers actually spilled over and started to gather at the level 3 foyer where there was huge space. Needless to say, it was also swarmed with photographers. Thus, it was really hard to make eye contact with the cosplayers when taking the photos. It is especially so for my point and shoot camera to jostle for attention against the DSLRs. ^^” That said, many of them did try to make as eye contact with as many photographers as possible.

There were many K-ON cosplayers, as well as Sheryl Nome and Ranka cosplayers. My favorite of the lots this year would be the Black Rock Shooter cosplayers. Their cosplay were all really great and it must have took them ages to do the gigantic Black Cannon. :)

Overall, I thought the event was pretty good and probably slightly better than last year. I just wish that more space could have been allocated to the exhibition arena. And hopefully, next year, maybe more figure exhibitors and makers like Alter would be invited. And of course more idols and seiyuus. Onegai shimasu.

Hope all who was at the event enjoyed the occassion. Looking forward to AFA10. Ja, mata ne! ^.

Jumat, 06 November 2009

Music and Heart

Musik sejak zaman dahulu telah disadari manusia sebagai suatu keajaiban. Hampir semua manusia tergerak olehnya. Nada dan irama telah juga menjadi bagian dari diri manusia, bunyi-bunyian alam, denyut kehidupan, dan alam semesta. Bahkan ada yang mengklaim bahwa manusia adalah musik, semesta adalah musik.

Maka dari itu pada halaman-halaman blog ini, kita akan mencoba mengeksplorasi keajaiban musik, keajaiban manusia, dan keagungan Tuhan. Eksplorasi itu dapat melalui review musik, kritik musik, baik dari kritikus maupun dari seorang pendengar awam, dan tentu dari komentar-komentar pembaca.

Sungguh saya berharap blog ini menjadi titik bangkitnya jurnalisme musik klasik di bumi Nusantara Indonesia. Dan juga sebagai titik bangkitnya perkembangan musik klasik di Indonesia.

Semakin mendengar, semakin mengerti, semakin merasa…

Makna yang tersebunyi di dalam hati…

Mengapa musik menjadi bagian dari alam kesadaran kita…

Mengapa kita sebagai manusia tergerak olehnya…

Mengapa kita bertumbuh darinya…

music_heart_sc.jpg

Ask Question? Please ask. From it we will learn something together…

Pianist Award Indonesia


Ananda Sukarlan

Ananda Sukarlan adalah sosok yang jauh dari ungkapan kacang lupa pada kulitnya. Pianis dan komponis Indonesia berkelas dunia, yang kini bermukim dan menjadi warga negara terhormat di Spanyol ini, ingin menyelengarakan sebuah program menarik yang berpuncak pada pemberian penghargaan kepada para pianis Indonesia berbakat lewat "Ananda Sukarlan Award for Best Indonesian Pianist 2008" pada Juli mendatang.

Inilah hadiah untuk tanah airnya dari musikus besar yang ulangtahunnya ke-40 di tahun ini dirayakan di berbagai negara. Program yang dibuka untuk para pianis Indonesia berusia di bawah 25 tahun ini merefleksikan minat Ananda Sukarlan dalam mengembangkan musik sastra Indonesia sekaligus musikalitas peserta. Diharapkan kelak mereka bakal mengikuti jejak-jejak visi, perjalanan serta keahlian sang maestro. Melalui program ini pianis-pianis berbakat Indonesia diberi kesempatan untuk tampil memainkan komposisi para komposer dunia dan Indonesia.

Kompetisi ini akan diselenggarakan di Jakarta, tanggal 23 - 26 Juli 2008. Program memainkan komposisi karya komposer dunia dan Indonesia akan dibagi dua babak, yakni babak penyisihan dan babak final. Sebagai ganjarannya Ananda sudah mempersiapkan puluhan juta rupiah bagi para pemenang. Untuk Best Indonesia Pianist 2008 pemenang akan diganjar hadiah Rp 25.000.000. Hadiah kedua Rp 12.500.000, hadiah ketiga Rp 7.500.000, serta penghargaan khusus untuk interpretasi karya komponis Indonesia sebesar Rp 5.000.000.

Untuk babak penyisihan tiap peserta diwajibkan membawakan komposisi-komposisi berikut ini. Pertama, satu prelude dan fugue karya Bach atau Mendelssohn atau Shostakovich atau satu interludium dan fugue dari Ludus Tonalis karya Hindemith. Kedua, satu etude karya Chopin (kecuali Op. 10 No. 3 dan 6, Op. 25 No. 7 dan Trois Nouvelles Etudes), atau satu etude karya Liszt (dari Paganini Etudes, Etudes Transcendentales or Three Concert Etudes), atau satu etude karya Prokofiev (Op.2), atau Rachmaninov (kecuali Op. 33 No. 3 dan 8, Op 39 No. 2 dan 7) atau Scriabin (kecuali Op. 2 No. 2, Op. 8 No. 8 dan 11, Op. 42 No. 2 dan 4, Op. 65 No. 2) atau Stravinsky (kecuali Op. 7 No. 3) atau Brtok (Op. 18) atau Debussy. Ketiga, satu komposisi berdurasi lima menit atau kurang, karya komponis Indonesia seperti Yazeed Djamin, Mochtar Embut, Amir Pasaribu, Jaya Suprana, Trisutji Kamal. Keempat, bagian pertama dari Sonata karya Haydn (kecuali HOB XVI/23 in F dan HOB XVI/37 in D), atau Mozart (kecuali KV 545 in C Major "Facile"), atau Beethoven (kecuali Op. 49 dan 79), atau von Weber, atau Schubert.

Dari babak penyisihan akan dipilih enam finalis. Pada babak final, keenam finalis terpilih diwajiakan membawakan resital berdurasi 45 menit, yang terdiri dari pertama, bagian-bagian yang belum dimainkan dari Sonata yang dibawakan pada babak penyisihan. Kedua, satu karya penting dari virtuoso dalam gaya romantik, berdurasi maksimal 12 menit. Ketiga, satu komposisi berdurasi 5 menit atau kurang, karya seorang komponis internasional, dengan tahun penulisan setelah 1908.

Para finalis membawa empat kopi partitur untuk diberikan ke juri sebelum gilirannya dimulai. Keempat, Rapsodia Nusantara No 1, komposisi baru yang megah untuk piano karya Ananda Sukarlan, dengan durasi enam menit. Karya ini akan dikirimkan ke seluruh peserta secara gratis melalui email dalam bentuk PDF. Peserta yang berharap dikirim melalui pos wajib membayar biaya pendaftaran lebih dulu.


____________________________________________________________

from the musical "Les Misérables"



Les Misérables is a musical by Claude-Michel Schonberg and Alan Boublil based on a book written by Victor Hugo. Since its premiere at the Palace Theatre, West End-London in 1985, Les Miserables has been translated into 21 different languages and played in 38 countries and 223 cities

The longest running production is in London where it played 7,602 performances at the Palace Theatre before transferring to the Queen's Theatre where it opened on 3 April 2004. It is the longest running musical both at the Palace Theatre and in the West End, London.

The biggest single live audience for Les Misérables to date was 125,000 at the 1989 Australia Day concert in Sydney.

Les Misérables contains beautiful tunes including “I Dreamed A Dream”, “Stars”, “Bring Him Home”, “One Day More”, “A Heart Full of Love”, “On My Own” and many more.

"One Day More", was used for Bill Clinton's 1992 US Presidential Campaign. "Do You Hear the People Sing" was played over TV newscast from the student protest in Tiananmen Square. "Bring Him Home" was officially requested by the US State Department to use as background for promotional material about the US troops engaged in the Gulf war.

Les Misérables celebrated the 10th Anniversary of its world premiere on 8 October 1995 with a Gala concert at the Royal Albert Hall, London.

The concert starred the original "Jean Valjean", COLM WILKINSON, who led a company of 250 artists and 100 musicians. All the artists involved had appeared in the worldwide productions of Les Misérables and the specially arranged finale featured 17 different Jean Valjeans singing in many of the languages in which the show has been performed.

And here’s the lyrics of BRING HIM HOME and a link to a video of Colm Wilkinson, the original “Jean Valjean”, who sings BRING HIM HOME.
Enjoy…!

BRING HIM HOME
From the musical Les Misérables
By Claude-Michel Schonberg and Alan Boublil

GOD ON HIGH, HEAR MY PRAYER
IN MY NEED YOU HAVE ALWAYS BEEN THERE
HE IS YOUNG, HE'S AFRAID
LET HIM REST, HEAVEN BLESSED
BRING HIM HOME
BRING HIM HOME
BRING HIM HOME

HE'S LIKE THE SON I MIGHT HAVE KNOWN
IF GOD HAD GRANTED ME A SON
THE SUMMERS DIE, ONE BY ONE
HOW SOON THEY FLY ON AND ON
AND I AM OLD AND WILL BE GONE

BRING HIM PEACE, BRING HIM JOY
HE IS YOUNG. HE IS ONLY A BOY
YOU CAN TAKE. YOU CAN GIVE
LET HIM BE. LET HIM LIVE

IF I DIE, LET ME DIE
LET HIM LIVE
BRING HIM HOME
BRING HIM HOME
BRING HIM HOME

Palace Theatre @ West End-London. March 2005

"MUSIKKU UNTUK BANGSAKU"


-->>> presented by Sampoerna Untuk Indonesia

A piano recital by Levi Gunardi


Levi Gunardi

Senin 11 Agustus 2008, Auditorium RRI Semarang
Kamis 14 Agustus 2008, Balai Pemuda, Surabaya

Sudah sejak lama saya mempunyai sebuah misi untuk memperkenalkan musik klasik khususnya dalam instrumen piano ke masyarakat Indonesia. Dari tahun ke tahun, resital demi resital telah dilaksanakan yang kebanyakan berbasis pada gedung konser di Jakarta. Saya ingat hal ini dilakukan mulai dari tahun 1997 pada setiap liburan kuliah saya mengadakan resital-resital, ataupun performances lainnya di Jakarta.

Kini tiba saatnya untuk melebarkan sayap ke kota-kota lainnya dalam membuat musik klasik lebih dapat diterima oleh masyarakat Indonesia, dan menghapus anggapan-anggapan yang memang sudah melekat kental di benak masyarakat kita sendiri bahwa musik klasik adalah hanya untuk "kalangan" tertentu. Sebuah anggapan yang seringkali membuat saya "gerah" karena hal itu saya yakin adalah salah besar.

Melalui konser "Musikku untuk Bangsaku" saya ucapakan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan dari "Sampoerna untuk Indonesia",yang ternyata sangat mendukung diadakannya acara ini. Dari situlah konser ini berawal. Betapa beruntungnya saya ternyata masih ada yang sangat peduli kepada kegiatan positif dalam pendidikan musik yang bersifat abadi ini.

Yang menjadi fokus dalam acara ini adalah banyaknya komponis-komponis Indonesia yang telah membuat karya-karya yang sangat baik, mulai dari bernuansa tradisionil, rasa nasionalisme tinggi, rasa patriotik, hingga musik Indonesia tapi justru yang di warnai dengan nuansa barat atau sebaliknya. Nama-nama komponis kita sudah terdengar di dunia lain, tapi betapa anehnya jika masyarakat kita sendiri tidak mengenal karya-karya mereka. Tidak ada momen yang lebih tepat dalam menyelenggarakan acara ini selain di bulan agustus yang juga bulan bersejarah bagi kemerdekaan negara kita.

Dari acara Resital dan dialog interaktif ini, 1 hal yang memang berkesan yaitu dalam acara tanya jawab di setiap sesi ke 2,karena ada saja yang memang baru pertama kali datang mendengar musik klasik dan ternyata bisa menyentuh hati mereka melalui musik ini, dan sangat mendukung dengan diadakannya acara seperti ini. Lebih dahsyatnya lagi, ternyata mereka adalah mahasiswa! Bukan orang-orang yang sudah berumur sesuai dengan anggapan musik klasik untuk orang tua.

Sungguh pengalaman yang unik dan berkesan dalam acara di 2 kota ini.....we'll always do the best for this country...INDONESIA

Levi Gunardi




Ballade pour Adeline

Ballade pour Adeline

Pada tahun 1976, ia diundang oleh produser rekaman Perancis yang bernama Olivier Toussaint. Rekan Toussaint yang bernama Paul de Senneville baru menyelesaikan balada untuk Adeline, anak perempuannya yang baru lahir. Pada waktu itu, Philippe Pagès masih berusia 23 tahun, dan mengikuti audisi bersama 20 orang pianis lain. Toussaint dan de Senneville senang dengan sentuhan lembut Philippe pada tut-tuts piano. Ditambah wajahnya yang tampan dan kepribadiannya yang menyenangkan, Philippe diterima untuk merekam lagu untuk piano ciptaan Paul de Senneville.

Nama Philippe Pagès diganti menjadi Richard Clayderman. Nama Clayderman diambil dari nama keluarga nenek buyutnya agar orang yang bukan penutur bahasa Perancis tidak salah mengucapkan namanya.[1] Singel Ballade pour Adeline ternyata jadi lagu laris, dan terjual 22 juta keping in 38 negara.

Konser Klasik dengan kemasan Pop



Tidak seperti di pergelaran musik klasik lain, konser Musicademia memang terasa lebih memberikan kebebasan pada penontonnya. Aturan-aturan baku yang biasa diterapkan di konser klasik tak berlaku sepenuhnya di sini.

Konduktor Addie MS, misalnya, bisa saja memberikan pengantar tentang satu repertoir yang akan dibawakan. Penonton bertepuk tangan saat sebuah repertoir sudah mulai dimainkan, atau penonton masih berjalan ketika konser sudah dimulai.

"Ya, kita memang ingin menumbuhkan terlebih dahulu apresiasi penonton terhadap musik klasik, sehingga aturan-aturan baku yang biasa diterakan pada konser musik klasik, kita abaikan dulu," ujarnya.

Selain itu, harga tiket yang amat murah juga jadi pembeda konser simponi Musicademia dengan konser klasik lain. Untuk konser semalam, tiket hanya seharga Rp20.000. Sehingga tidak heran kalau konser itu, seperti yang sudah pernah digelar tahun-tahun sebelumnya berhasil menghimpun banyak penonton.

Dalam konser tadi malam, sekitar 3.000-an penonton datang dalam konser bertema 'Terima Kasih Pemuda Indonesia' yang diadakan dalam rangka Sumpah Pemuda.

Berkait denga tema itu, Twilite Orchestra (TO) memang banyak membawakan repertoir lagu-lagu kebangsaan, seperti Bangun Pemuda Indonesia, Indonesia Pusaka, Pemuda, Selamat Datang Pahlawan Muda, dan lagu daerah yang terbungkus dalam medley serta lagu Janger dari Bali.

Repertoir lain adalah lagu-lagu karya musisi luar yang sudah akrab di sebagian penonton seperti Hero yang dipopulerkan Mariah Carey karya David Foster, The Power of Dream yang dipopulerkan oleh Babyface karya David Foster.

Meski tetap pula ada repertoir klasik seperti Academic Festival Overture Op 80 atau Festive Overture Op 96.

Penampilan Idol Divo yang meruapakan gabungan dari para finalis Indonesia Idol, yakni Delon, Yudika, Mike, dan Lucky, menjadi salah satu daya tarik para penonton muda yang banyak datang dalam konser tersebut. Idol Divo membawakan dua repertoir, yakni Pemuda yang dipopulerkan kelompok musik Chaeseiro pada era 80-an, serta Hero karya David Foster yang dipopulerkan Mariah Carey dan Air Supply.

Konser Musicademia adalah program tahunan yang dimulai pada 2000 yang merupakan bagian dari 'Program Kampus Sampoerna'.

"Program ini bertujuan untuk memberikan tontonan berkualitas bagi civitas akedemika yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan apresiasi bagi musik simfonik di Indonesia," ungkap Elvira Lianita, PR Manager PT HM Sampoerna Tbk

Gedung Unik di dunia



Gedung Keranjang (Amerika)

Diawali sebuah mimpi Dave Longaberger, Pendiri dari perusahaan Longaberger Perusahaan, telah merubah Kantornya menjadi Gedung Keranjang raksasa yang kini digunakan sebagai kantor Perusahaannya. Dave yakin idenya ini merupakan cara terbaik untuk menarik perhatian kepada perusahaannya. Awalnya ide dave hanya dianggap joke oleh teman2nya bahkan dia sering dicap sebagai pelawak. Tidak hanya Banker, perusahaan konstruksi dan arsitektur pun tidak menganggap Dave serius,bahkan banyak karyawan yang bekerja di Perusahaan Longaberger tidak percaya, tetapi Dave tetap yakin dan berusaha. Akhirnya mimpi Dave jadi kenyataan pada 17 Desember 1997 ketika Kantor Perusahaannya yang dirancang untuk menyerupai sebuah keranjang akhirnya dibuka untuk bisnis.




Rumah Tari (Republik Ceko)
Rumah Tari yang merupakan nama panggilan yang diberikan kepada sebuah gedung kantor di pusat kota Praha, Republik Ceko. Ia dirancang oleh arsitektur Ceko kelahiran Kroasia Vlado Milunic bekerjasama dengan arsitektur Kanada Frank Gehry. Di mana sebelumnya bangunan ini telah hancur karena bom di Praha pada 1945. Konstruksi dimulai pada 1994 dan selesai pada tahun 1996.

Desain yang non-tradisional ini sempat kontroversial pada saat itu. Presiden Ceko Václav Havel, yang tinggal untuk dekade itu akhirnya mendukung, berharap bahwa bangunan akan menjadi pusat kegiatan budaya.

Pada bagian atap dijadikan restoran Prancis dengan pemandangan kota yang indah. Bangunan dari penyewa lainnya termasuk beberapa perusahaan multinasional. (Yang rencana untuk pusat budaya tidak terwujud.) Karena terletak di sebelah jalan yang sangat sibuk dan sirkulasi udara yang tidak bagus, sehingga membuat interior agak kurang menyenangkan bagi para pengunjung dan para tamu.



Rumah Piano (Cina)
Rumah Piano yang unik ini dibangun di Propinsi An Hui, Cina. Di dalam biola terdapat eskalator yang digunakan untuk menuju bangunan. Bangunan ini menampilkan berbagai rencana pembangunan dan prospek dalam sebuah upaya untuk menarik minat yang baru-baru ini dikembangkan menjadi kawasan area ini.



Perpustakaan Kota Kansas (Amerika)
Perpustakaan kota Kansas memiliki satu pemandangan yang menarik. Penduduk lokal diminta untuk mencalonkan buku yang mewakili kota kansas, dan nanti bagi nominasi yang memenangkan ajang ini akan digunakan sebagai eksterior dari mobil-taman perpustakaan.



Gedung Robot (Thailand)
Gedung Robot, terletak di Sathorn bisnis di Bangkok, Thailand, tempat United Overseas Bank Bangkok berpusat. Gedung ini dirancang untuk Bank of Asia oleh Sumet Jumsai yang akan mencerminkan komputerisasi dari perbankan; arsitekturnya merupakan perpaduan dari neoclassical dan teknologi tinggi arsitektur postmodern.



The Crooked House (Polandia)
Arsitektur Polandia dari Crooked House, Szotynscy Zaleski, terinspirasi oleh dongeng ilustrasi dari Jan Marcin Szancer dan gambar-gambar dari artis Swedia Per Dahlberg. Gedung yang paling sering di foto di Polandia ini berdiri di 4.000 meter persegi yang terletak di pusat perbelanjaan Rezydent di Sopot, Polandia.




+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

woosss

Dompet Raksasa
Para pejalan kaki sempat kaget saat melihat sebuah dompet superbesar tergeletak di salah satu sudut Kota Melbourne, Australia, Selasa lalu (3/11). Begitu besarnya, dompet raksasa itu mampu memuat uang dalam jumlah yang banyak. Termasuk, orang sekalipun. Bahkan, seluruh uang yang dialirkan Anggodo dalam skandal yang kini menghebohkan di Indonesia, mungkin, bisa tertampung di dalamnya. Tetapi, warga hanya tersenyum setelah sadar bahwa dompet itu tidak berisi uang. Sebab, itu hanya karya seni instalasi seniman Simon Perry yang diberi judul ''The Public Purse'' (dompet publik). (Rtr)





Stradivarius Antonius ..Biola tertua


Biola tertua di Indonesia dipamerkan di Gedung Indonesia Mengugat (GIM) Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 5 Bandung mulai hari ini. Biola berwarna kecoklatan ini bernama Biola Antonius Stradivarius dan di produksi akhir tahun 1800-an.


Foto : Biola Antonius Stradivarius, Biola Tertua Di Indonesia

Pemilik awal biola ini adalah keluarga asal Portugis yang tinggal di Kawasan Tugu Cilincing, Jakarta Barat dan sudah diwariskan turun temurun sejak lima generasi.

Pemilik awal biola ini bernama Andreas Andries yang meninggal pada tahun 1889. Setelah meninggal, biola keluarga diwariskan ke anaknya, Lucas Andries (1880-1964). Seiring berjalannya waktu, biola keluarga ini pun diampu anggota keluarga lain. Mathias Michiels, menantu Lucas Andries diberi kepercayaan untuk merawat biola tersebut.

Setelah lama disimpan di Kawasan Tugu, biola itu harus berpindah tempat seiring migrasi keluarga pemilik. Pada tahun 1950, Mathias melakukan migrasi ke Papua dan biola pun turut dibawa pula. Biola selanjutnya tetap disimpan di Papua, meski Mathias harus berpindah ke Belanda pada tahun 1963.

"Anak Mathias yang bernama Arend Julinse Michiels diserahi tugas merawat biola tersebut," urai Wakil Ketua acara Pameran Repoeblik Keroncong mulai 27 Agustus - 30 Agustus, Zaini Rahman, Kamis (28/8/2008).

Pada tahun 1999, biola dibawa kembali ke Jakarta oleh putra Arend yang bernama Andre Juan Michiels. Andre yang saat ini berumur 30 tahun berencana mewariskan ke putra pertamanya, Arend Stevanus Michiels.


Lang Lang ,Pianist of Chinese Overture

Lang Lang

March 2008
Background information
Born June 14, 1982 (age 27)
Shenyang, China
(1982-06-14)
Occupations Pianist
Instruments Piano

Lang Lang (Chinese: 郎朗; pinyin: Láng Lǎng) (born June 14, 1982) is a Chinese (Manchupianist from Shenyang in Liaoning province, China. ethnicity)

Contents

[hide]

[edit] Early years

At the age of two, he saw Tom playing piano in The Cat Concerto, a Tom and Jerry cartoon on TV (Tom was attempting the Hungarian Rhapsody No. 2 in C-sharp minor composed by Franz Liszt). According to Lang Lang, this first contact with Western music is what motivated him to learn piano.[1][2] He began lessons with Professor Zhu Ya-Fen at age three. At the age of five, Lang won the Shenyang Piano Competition and performed his first public recital.[3]

When he was nine years old, Lang Lang was nearing his audition for Beijing's Central Conservatory of Music, but he had difficulties with his lessons, and was expelled from his piano tutor's studio for lack of talent.[4] His music teacher at his state school noticed Lang Lang's sadness, and decided to comfort him by playing a record of Mozart's Piano Sonata No. 10 in C Major, K. 330; she asked him to play with the slow movement. This reminded Lang of his love of the instrument. "Playing the K. 330 brought me hope again," recalled Lang.[4]

Lang was admitted into the Conservatory, studying under Professor Zhao Ping-Guo. In 1993, Lang won the Xing Hai Cup Piano Competition in Beijing, being awarded first prize for outstanding artistic performance at the Fourth International Young Pianists Competition in Germany the next year.[3] In 1995, at 13 years of age, he played the Op. 10 and Op. 25 ChopinEtudes, at Beijing Concert Hall and, in the same year, won first place at the Tchaikovsky International Young Musicians' Competition in Japan[3], playing Chopin's Piano Concerto No. 2Moscow Philharmonic Orchestra in a concert broadcast by NHK Television.[5] At 14 he was a featured soloist at the China National Symphony's inaugural concert, which was broadcast by CCTV and attended by President Jiang Zemin.[citation needed] The following year he began studies with Gary Graffman and Dick Doran at the Curtis Institute in Philadelphia. with the

HUT Twilite Youth Orchestra

Memperingati lima tahun perjalannya, Twilite Youth Orchestra bekerja sama dengan Hotel Indonesia Kempinski, Grand Indonesia dan BCA akan menyelenggarakan konser bertema “The Great Overtures, pada 17 Agustus 2009 pada pukul 15.00 dan 19.00 Wib di Bali Room, Hotel Indonesia Kempinski.

 HUT, Twilite Youth Orchestra Helat KonserBerdirinya sejak Agustus 2004, Twilite Youth Orchestra yang didirikan Addie MS dan dikonduktori oleh Eric Awuy, sudah mengadakan lebih dari dua puluh pertunjukkan. Tujuannya adalah agar memberi kesempatan bagi para remaja anggotanya untuk bermain musik bersama, meningkatkan kemampuan bermusik, mengapresiasi musik-musik simfonik, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri dengan tampil di depan publik.

Di konsernya ini nanti, penonton akan diajak menikmati Overtures terkenal karya komposer-komposer ternama seperti ‘The Mastersingers of Nuremberg- Prelude to the Opera’ karya Richard Wagner, ‘William Tell Overture’ karya Gioachino Rossini, ‘Academic Festival’ karya Johannes Brahms dan ‘The Marriage of Figaro’ karya Wolfgang Amadeus Mozart.

Tak hanya itu saja, ada juga berbagai karya yang menampilkan para solis muda Twilite Youth Orchestra. Misalnya ‘Kol Nidrei’ (Cello Concerto) karya Max Bruch, ‘Violin Concerto no. 3’ (1st movement-Allegro) karya WA Mozart, serta ‘Oboe & Bassoon Concerto in G Major RV 545’.

Sebagai solis antara lain Yani Listiyani (violin), Beatrice Monica (cello), Stephanie Marcia Suryahadi (bassoon), dan Wirya Satya Adenatya (oboe). Penampilan para solis sekaligus untuk menunjukkan adanya regenerasi musisi, terutama untuk pemain instrumen yang relatif langka di Indonesia seperti bassoon dan oboe.

Sebagai perwujudan rasa syukur, Twilite Youth Orchestra juga akan menyumbangkan sebagian hasil konser untuk para nelayan di kawasan Buleleng yang tergabung dalam program Eco Fish agar bisa menangkap ikan hias dengan cara yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Musicademia 'Terima Kasih Pemuda Indonesia'

musicademia ticket

Ini adalah pengalaman pertama saya menonton Twilite Orchestra secara live, walaupun motif utama bukan menonton Twilite Orchestra tapi menonton guru piano saya, Levi Gunardi.

Tiba di Balai Kartini waktu sudah menunjukkan pukul 7. Para calon penonton sudah berbondong-bondong antri di depan pintu yang jadwalnya akan dibuka pukul 7.30 seperti antri sembako. Begitu pintu dibuka semua penonton langsung bergerak masuk dan saling dorong seperti antri sembako. Bisa diduga ini adalah acara yang lagi-lagi panitianya tidak memikirkan kenyamanan penonton.

Konser malam itu dibuka dengan sebuah video yang menampilkan perjuangan pemuda-pemudi Indonesia dari masa ke masa. Videonya dikemas menarik dengan sinematografi yang enak dilihat. Kemudian Addie MS masuk dan memimpin orchestra memainkan ‘Indonesia Raya’. Konser ini memang diadakan sehari setelah hari Sumpah Pemuda dan atmosphere patriotismenya benar-benar terasa.

Addie MS ternyata cukup komunikatif, ia selalu memberikan introductory singkat sebelum atau sesudah memainkan sebuah komposisi.

Daniel Christianto

Solois pertama yang muncul membawakan Indonesia Pusaka karangan Ismail Marzuki adalah Daniel Christianto yang cukup berbakat namun saya tidak begitu menyukai gaya vokalnya yang berjenis seriosa. Terlalu banyak getaran sehingga terkesan dieksploitasi, tapi saya memang tidak begitu mengerti tentang seriosa.

Lea Simanjuntak

Membawakan Indonesia Jaya dengan penuh penghayatan dan yang paling mengesankan dari solois wanita ini adalah kekuatan vokalnya. Di lagu The Power of The Dream bahkan vokalnya lebih memukau lagi. Bagi saya penyanyi paling bagus malam itu adalah Lea Simanjuntak.

Idol Divo

Selain solois Daniel Christianto dan Lea Simanjuntak, Idol Divo yang terdiri dari Mike, Delon, Lucky, dan Judika Indonesian Idol. Mereka membawakan lagu Pemuda karya Candra Darusman dan Hero-nya Mariah Carrey. Pada lagu pertama saya tidak begitu menyukai harmonisasi vokalnya, terasa nanggung dan kurang pas, bagian akhirnya pun terdengar menggantung dan aneh. Namun di lagu yang kedua mereka terdengar lebih enak.

Duo Piano: Levi Gunardi dan Johannes S. Nugroho

Yang saya tunggu-tunggu adalah duet piano Levi Gunardi dan Johannes S. Nugroho membawakan Tabuh Tabuhan: III Finale karya Colin McPhee. Bagi saya komposisi ini adalah klimaks dari acara malam itu. Lagu ini bernuansa bali dengan instrumen utama 2 piano, celesta, xylophone, marimba, glockenspiel, cymbal dan gong Bali. Duo piano bermain agresif dan mengimitasi suara gamelan membuat nuansa Bali. Lagu ini tidak ada bagian klimaksnya, namun semua instrumen bersatu dengan sedikit campuran musik Barat yang mengalun dan musik Bali yang agresif.

Komposisi favorit saya selain Tabuh Tabuhan: III Finale adalah Janger yang dinyanyikan paduan suara dari universitas Trisakti, IPB, dan UI. Lagu ini juga bernuansa Bali dengan harmonisasi paduan suara yang luar biasa indah dan mistis. Selain itu ada juga Sabre Dance yang diambil dari musik ballet Rusia yang berjudul Gayaneh, lagu ini merupakan tarian pedang. Di sini terlihat benar Addie MS dan para pemain orchestra benar-benar menikmati bermain musik. Pada bagian akhir lagu Addie MS sempat meniru gerakan bermain pedang bersama dengan pemain biola dan pemain cello.

Konser malam itu dilihat dari segi acara sangat menarik dan menghibur, tapi selalu ada nilai minus dari sisi kenyamanan menonton. Dimulai dari antrian yang sangat panjang dan pintu yang sangat kecil sampai kenyamanan kita duduk menonton. Karena floor dibuat sedikit naik dengan tripleks yang dilapisi karpet jadi setiap ada orang berjalan, area tempat duduk tersebut akan bergoyang-goyang heboh, sudah begitu panitia terus hilir-mudik jadi selama menonton saya rasanya seperti berada di atas air karena goyang-goyang terus


.

Malam Ini, Twilite Orchestra Akan Hibur Warga Semarang Jumat, 6/11/2009

Jumat, 6/11/2009
  • TO Menghibur, Afgan dan Lea Jadi Bintang ..
  • Afgan dan Lea di Panggung Orkestra Musicademia..

SEMARANG, KOMPAS.com - Setelah menghibur kalangan civitas akademika di Palembang, Sumatra Selatan, lewat konser simpfoni Musicademia 2009, kelompok musik simponi Twilite Orchestra pimpinan Addie MS akan menggelar konser bertema "Bagimu Pahlawan" di Kota Semarang.

Pementasan yang akan dilangsungkan di Ballroom Hotel Horizon, Jumat (6/11) malam nanti, digelar dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November, sekaligus menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap musik orchestra di Tanah Air.

"Seperti pertunjukan sebelumnya di Palembang, konser di Semarang juga kita akan menampilkan repertoar musik klasik dari lagu-lagu yang mengusung tema semangat kepahlawanan. Ada beberapa repertoar yang diubah. Kalau kemarin di Palembang kita membawakan Gending Sriwijaya, di Semarang pastinya kita akan membawakan lagu dari daerah sini," jelas Addie, dalam jumpa pers di Hotel Horizon, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/11).

"pastinya akan diaransemen ulang agar mampu menghadirkan warna alunan yang elegan namun mudah dicerna serta dapat dinikmati oleh semua kalangan," lanjut Addie.

Karenanya, untuk melengkapi harmonisasi musik simfoni yang akan dibawakan TO, Addie pun menggandeng Christopher Abimanyu. "Mereka itu adalah orang-orang yang menonjol di bidangnya, kalau Abimanyu itu seorang penyani sopran yang sudah tidak diragukan lagi," ungkap Addie.

Nah, untuk menarik antusias kalangan anak-anak muda, Addie kembali menggaet penyanyi Afgan Syahreza dan Lea Simanjuntak untuk terlibat dalam konser simfoninya kali ini. "Lea juga demikian, dia penyanyi festival. Terus Afgan, meski dia penyanyi baru bukan berarti idealis itu milik yang tua," imbuh Addie.

Menilik tujuan dari konser musik simfoni sebagai pembangkit semangat kepahlawanan, maka tema dan repertoar lagu kali ini begitu kental dengan nuansa nasionalisme. Lagu "Indonesia Raya" akan menjadi pembuka, dan dilanjutkan dengan "Bangun Pemudi Pemuda", "Juwita Malam", dan sederetan lagu perjuangan lainnya

usmar ismail

woowwwww


You are currently browsing the category archive for the 'Concert Hall' category.

Sendratari Ramayana Tampil di Lebanon

Jumat, 31 Juli 2009 | 02:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com–Kedutaan Besar RI di Beirut, Lebanon, menampilkan Sendratari Ramayana dan aneka musik tradisional Indonesia di beberapa kota di Lebanon dalam pagelaran bertajuk “Malam Indonesia”.

Siaran pers KBRI Beirut yang diterima ANTARA di Jakarta, Kamis, menyebutkan, para seniman yang akan tampil dalam sendratari tersebut berasal dari Yogyakarta, dan diperkuat para staf KBRI Beirut, mahasiswa, dan prajurit TNI di UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon).

Acara tersebut diselenggarakan untuk memeriahkan peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke-64, pada 17 Agustus 2009.

Para penari Lebanon yang tergabung dalam Friends of Indonesia (Teman-Teman Indonesia) juga ikut berkolaborasi dalam itu.

Penampilan dimulai 8 Agustus 2009 di UNESCO Palace. Beirut mengundang sekitar 1.000 penonton dari semua kalangan di Lebanon.

UNESCO Palace merupakan balai pertunjukan berkapasitas 1.500 tempat duduk, lengkap dengan peralatan panggungnya. Tempat ini sering digunakan untuk pementasan seni-budaya, drama dan hiburan yang biasa dibawakan oleh artis tersohor dari berbagai negara.

Pada 11 Agustus 2009, tim kesenian dengan hampir 70 pemain ini akan manggung di hadapan pasukan penjaga perdamaian PBB di daerah perbatasan Lebanon-Israel.

Pada kesempatan ini, pelawak Tarzan dan teman-temannya juga akan tampil, menghibur pejuang-pejuang perdamaian yang haus humor-humor segar Indonesia.

Tempat berikutnya yang “disambangi” tim kesenian itu adalah Bachoos Temple, sebuah candi bekas reruntuhan kota kuno Romawi di kota Baalbeck, 2 jam perjalanan darat ke arah tenggara Lebanon. Di sana mereka akan manggung pada 15 Agustus 2009.

Menurut guru tari KBRI Beirut, Ahmad Maulana, persiapan “Malam Indonesia” terus dilakukan, tidak hanya latihan gerakan tarian, tapi juga terkait dengan urusan teknis menyeluruh.

Ia mengatakan, tim akan tampil penuh kejutan dalam atraksi berdurasi satu jam tersebut dengan memaksimalkan penggunaan teknologi pencahayaan dan sound system yang dipadu untuk mendukung karakter cerita tari.

“Lenggak lenggok penari Lebanon, yang terbiasa dengan gerakan tari salsa dan jenis hip-hop lainnya akan memperkaya dan menambah unsur surprise dalam pertunjukan nanti,” kata Ahmad Maulana yang sebelumnya aktif di grup kesenian Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

...................

wala-wala .. keren nian oi .. jembatan2 nya ..
hahah :))
kpan y bsa ksna ???
wkwkkwk :P


1 Jembatan Oliveira di Brazil: Jembatan kabel bentuk X pertama di dunia

[Image: a261_oliveira-brazil-1.jpg?w=450&h=566]

2. Tower Bridge (Britania Raya): Jembatan Victorian Paling Terkenal dan Terindah


[Image: a261_tower-victorian-eng.jpg?w=480&h=319]

3. Jembatan Banpo (Korea Selatan): Jembatan Air Mancur


[Image: a261_fountain-korea.jpg?w=450&h=739]

4. Jembatan Millau (Perancis): Jembatan Tertinggi di Dunia


[Image: a261_millau-france-1.jpg?w=450&h=299]

5. Jembatan Teluk Hangzhou (Cina): Jembatan Lintas Lautan Terpanjang di Dunia
[Image: a261_hangzhou-cina.jpg?w=450&h=579]

6. Rolling Bridge (Britania Raya): Jembatan yang dapat menggulung sendiri


[Image: a261_rolling-eng.jpg?w=450&h=478]

7. Jembatan Air Magdeburg (Jerman): Jembatan Air Terbesar di Eropa


[Image: a261_water-jerman.jpg?w=450&h=272]


yeeee ..

saiia suka ..

paling suka ..

Jembatan Banpo (Korea Selatan): Jembatan Air Mancur

hahah ..
mw ksna.mw ksna